Setiap manusia punya cerita. Di balik tawa ada kegetiran. Di balik ratapan terselip harapan.
Hidup itu jalinan cerita. Manis di awal belum tentu bahagia. Pahit pun bukan kartu mati.
Kisah hidupku terus berlanjut. Entah sampai kapan.

Minggu, 09 Agustus 2009

Suatu sore di kampungku

Kursi roda itu macet tepat di atas 'polisi tidur' di ujung gang. Sore itu suasana lengang. Para ibu tengah sibuk memandikan anak-anak mereka di dalam rumah-rumah sempit yang saling berdempetan.

Lelaki berkaki cacat yang berada di kursi roda itu tampak kewalahan. Maju tak bisa, mundur pun kesulitan. Beberapa pengemudi sepeda motor yang melintas menyempatkan diri menoleh sekejap untuk kemudian berlalu begitu saja.

Bibir hitam lelaki berperawakan kecil itu terkatup rapat. Tak tampak sekali pun ia angkat suara meminta pertolongan. Entah apa yang ada di benaknya.

Ketika tiba giliranku melintas di dekatnya, kupelankan laju sepeda motorku. Kutatap matanya lurus-lurus mencari tahu. Lagi-lagi ia cuma membisu. Hanya sorot matanya yang samar-samar melontar harap.

Karena jarak rumahku sudah dekat, kuantar dulu putriku sampai ke depan rumah. Lalu dengan berjalan kaki kuhampiri lelaki berkursi roda itu. Beberapa pengemudi sepeda motor kembali melintas. Sejauh ini yang mereka lakukan hanya sebatas menolah-noleh penasaran dari atas kendaraan.

Ternyata lelaki berkursi roda itu memang hemat bicara. Setelah berkali-kali kutanya, barulah ia meminta kursi rodanya ditarik mundur saja. Selepas dari jebakan 'polisi tidur', ia berkeras tak mau dibantu lebih banyak. Demi menghormati keinginannya, kuawasi dia memutar arah kursi rodanya dan berlalu entah ke mana.

Sepanjang sisa sore itu, ada dua hal yang menggelayuti benakku. Sosok lelaki berkursi roda itu, dan para pengemudi yang melintasinya begitu saja.

20 mewarnai perjalanan hidupku:

albertus goentoer tjahjadi mengatakan...

Mbak... aku bisa membayangkan apa yang dipikirkan lelaki itu... dia pasti takjub...ternyata ada juga orang yang mempedulikannya di tengah banyak orang lain yang hanya memandang iba tanpa melakukan apa-apa... aku sungguh terkesan dengan apa yang dilakukan mbak... salam kasih dan hormatku untuk mbak...

dewi mengatakan...

sudah begitu tidak perdulikah masyarakat indonesia ini.. di mana budaya tolong menolong yang dulu di banggakan..untung masih ada org seperti mbak ini.. aq salut n respect ma mbak. oh ya mbak klo gak repot ada award skligus peer di rumah aq buat mbak. mohon di ambil. makasih mbk

Henny Y.Caprestya mengatakan...

apa yang mbak eha lakukan sudah benar, jangan ditiru orang-orang cuek nan angkuh dan tak mau peduli dengan apa yang dilakukan orang lain

-3- mengatakan...

wew .. sudah lunturkah sikap tolong menolong di Indonesia ini ?

antowi mengatakan...

Menolong mungkinkah sekarang menjadi "barang langka"?

Mrs Irontius Lou mengatakan...

kayaknya kita memang harus lebih "peduli" dengan sekeliling kita, jgn hanya memikirkan urusan "kita" sendiri..salut buat mba evy!! sebuah contoh yang saya kagumi!

bukufanda mengatakan...

It's nice to learn what you've done to that man. Something that people often hesitate to offer: a helping hand.

princess mengatakan...

kasih itu indah, bila kita bisa berbagi dan menolong orang lain. oh ya mbak, yang Tea Time itu rumah baru yah? :)

Nadja Tirta mengatakan...

Salut atas teladannya sobat..
Semoga kepedulian pada sesama tidak akan hilang dari hati kita semua ya..?

eha mengatakan...

Makasih ya buat tanggapan teman-teman :D

@princess: Tea Time? Dulu blog itu pernah kubiarkan kosong selama beberapa waktu. Sekarang aku memanfaatkannya untuk curhat sendiri (itu sebabnya ga ada akses untuk komen di situ). Untuk bersosialisasi aku menggunakan blog ini dan blog Life=likethis. Keep in touch ya :)

myspaceblog mengatakan...

@dia ga mau ngrepotin orang lain dengan keterbatasannya, bisa jadi karena emang dia pasrah tidak sibuk meminta-minta bantuan

jimox mengatakan...

wah gimana ya..
mungkin orang-orang yang lewat tadi bukannya tidak mau menolong. mungkin mereka mencoba menghormati orang yang berada di kursi roda tersebut.
tapi seep buat mbak evy. udah balik, buat nolong orang tersebut. hehe..

reni mengatakan...

Sayang sekali..., untuk berbuat baik pun banyak orang masih menunggu. Padahal banyak orang yang sudah tak mampu menunggu lebih lama utk dibantu...

irmasenjaque mengatakan...

ternyata nurani manusia dijaman kini mulai kurang sensitif dgn hal2 seperti itu y mba.

kebaikan kecil yg bermakna besar ^_^

Sidik Nugroho mengatakan...

hidup lelaki ang tak manja. indah nian kisah ini menginspirasi siangku.

Sigit mengatakan...

keinginan yang ada dalam benak manusia sulit untuk ditebak rimbanya..oleh sebab itu kita diberi beberapa indra untuk mengungkapkan sesuatu yang tersimpan dalam benak supaya orang lain mengetahuinnya..

Newsoul mengatakan...

Saya suka dengan keengganan si bapak cacat tadi yang sedapat mungkin berusaha sendiri, tanpa mengaharapkan bantuan orang lain. Cuma, seharusnya kita lebih peka, mau menolong tanpa harus diminta. Sudah yang dilakukan si aku (mbak Evy) di atas tadi. Postingan menarik mbak Evy.

Arfi mengatakan...

Ah,,, yang lalu lalang itu gak punya hati apa???? sudah tahu ada orang kesusahan, beuhhh

Cerita Tugu mengatakan...

selamat malam
salam kenal,salam persahabatan

love-ely mengatakan...

Sepertinya lelaki tersebut punya semangat kemandirian yang besar.

Poskan Komentar

Yuk ikut mewarnai perjalanan hidupku